Perkuat Sinergi, Petakan Masalah, dan Dorong Percepatan Tanam
Ubud, 6 Agustus 2025 – Dalam upaya mempercepat pencapaian target Luas Tambah Tanam (LTT) padi di Provinsi Bali, Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Bali menggelar Rapat Koordinasi LTT Padi Tingkat Kecamatan yang berlangsung di Ruang Pertemuan Kantor BPP Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar.
Rapat yang dimoderatori oleh Dr. A.A. Ngurah Badung Sarmuda Dinata, S.Pt., MP. ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari lintas sektor. Hadir dalam kesempatan ini Kepala BRMP Bali, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali yang diwakili oleh Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH), jajaran Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, perwakilan Dinas PUPR Gianyar, BWS Bali-Penida, unsur TNI, Koordinator BPP se-Kabupaten Gianyar, serta para pekaseh dari Subak di Kecamatan Gianyar, Sukawati, Ubud, dan Blahbatuh.
Kepala BRMP Bali, Dr. drh. I Made Rai Yasa, MP., menyampaikan pentingnya sinergi lintas sektor dalam menyukseskan program nasional LTT padi. Ia menegaskan bahwa BRMP kini menjadi penanggung jawab pelaksanaan LTT di Provinsi Bali. Dalam paparannya Kepala BRMP Bali mengungkapkan bahwa untuk menjaga ketahanan pangan nasional, Indonesia membutuhkan minimal 1 juta hektar tanam padi setiap bulannya. Sayangnya, capaian bulan Juli 2025 secara nasional masih di bawah target, yaitu 971.404 Ha.
Untuk Bali, target LTT tahun 2025 mencapai 155.157 Ha, dan Kabupaten Gianyar mendapat alokasi sebesar 25.930 Ha. Namun, per Juli 2025, capaian LTT di Gianyar baru mencapai 69,6% dari target bulanannya. Sementara itu, realisasi LTT pada awal Agustus tercatat masih di angka 15%. “Permasalahan mendasar dalam pencapaian LTT meliputi alih fungsi lahan, keterbatasan SDM penggarap dan penyuluh, hingga keterlambatan pelaporan harian. Selain itu, adanya perbedaan data LTT dari berbagai sumber menjadi tantangan tersendiri,” tegas Rai Yasa.
Rai Yasa, juga menyoroti pentingnya justifikasi lahan bera dan dokumentasi lapangan untuk memperkuat laporan ketidaktercapaian target LTT.
Perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, I Gusti Ayu Dwi Sugitarina Oka, S.TP., M.Agb., memaparkan realisasi LTT yang fluktuatif sepanjang tahun. Ia menyoroti bahwa sejak Maret, Gianyar tidak mampu mencapai 100% dari target LTT karena faktor musim tanam yang mundur dan peralihan ke komoditas hortikultura seperti cabai.
Selain itu, alih fungsi lahan menjadi salah satu kendala utama. Berdasarkan SK Menteri ATR/BPN, Luas Baku Sawah Gianyar menurun drastis dari 10.847,12 Ha pada 2023 menjadi 10.035 Ha pada 2025. Masalah lain yang turut diangkat antara lain ketersediaan benih insitu yang terbatas, kerusakan jaringan irigasi, dan gangguan hama serta iklim.
Kabid TPH Dinas Pertanian Provinsi Bali, Ir. I Komang Swastika, M.Si., menyatakan bahwa data pertanaman diperoleh dari Penyuluh Pertanian. Ia juga menekankan pentingnya akurasi data dan pelaporan harian serta pengendalian hama tikus secara terpadu.
Sementara itu, Dinas PUPR Gianyar melalui I Nyoman Sugiarta, ST., menjelaskan pembagian kewenangan perbaikan jaringan irigasi. Tercatat pada 2025 terdapat tujuh paket perbaikan irigasi yang didanai APBD, serta 14 usulan daerah irigasi untuk tahap II Inpres. Irigasi tersier masih menjadi titik rawan dan membutuhkan usulan proposal dari kelompok tani atau subak.
Sejumlah pekaseh menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi di lapangan. Subak Mawang Teben melaporkan kerusakan terowongan irigasi sedalam 15 meter, sedangkan Subak Pacung Mitra mengeluhkan serangan hama tikus dan kekurangan tenaga kerja tanam.
Menanggapi hal ini, Kepala BRMP Bali menyatakan akan menugaskan Penanggung Jawab LTT Kabupaten untuk melakukan pendalaman masalah di tingkat lapangan dan berkoordinasi dengan pihak terkait termasuk BWS dan TNI.
Kabid TPH Provinsi Bali juga menegaskan bahwa stok racun hama tersedia di BPTPH, dan meminta Dinas Pertanian Kabupaten segera mengajukan permintaan bantuan burung hantu Tyto Alba sebagai predator alami tikus.
Rapat koordinasi ini menghasilkan kesepahaman dan komitmen bersama untuk meningkatkan akurasi data, memperbaiki infrastruktur irigasi, mempercepat pelaporan, dan memperkuat pendampingan petani. Upaya konkret melalui sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, penyuluh, dan pekaseh diharapkan mampu mendorong percepatan tanam dan pencapaian target LTT padi di Bali.